JAKARTA, Narasionline.id – Sebuah peristiwa tak terduga mengubah keseharian seorang guru sekolah dasar setelah menemukan tumpukan koin kuno dan perhiasan logam mulia yang diduga bernilai miliaran rupiah di halaman sekolah tempatnya mengajar. Temuan itu langsung menyita perhatian warga dan memicu penelitian arkeologis lebih lanjut.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (04/04/2026), bermula dari aktivitas sederhana sang guru yang sedang merapikan lahan di area belakang sekolah. Saat menggali tanah menggunakan cangkul, ia merasakan benturan benda keras yang tertanam cukup dalam.

Setelah dibersihkan, benda tersebut ternyata berupa wadah tradisional berisi koin-koin kuno dan sejumlah perhiasan logam mulia yang diduga berasal dari masa kerajaan lampau.

Berdasarkan penilaian awal dari kalangan kolektor dan ahli numismatik, koin-koin tersebut memiliki kandungan emas tinggi serta nilai historis yang langka. Estimasi sementara nilai ekonominya diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Sesuai ketentuan hukum di Indonesia, temuan yang diduga berkaitan dengan benda cagar budaya wajib dilaporkan kepada pemerintah daerah dan dinas kebudayaan setempat. Status kepemilikan temuan tersebut kini masih dalam proses kajian berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya, meskipun penemu berpeluang memperoleh kompensasi sebagai pihak yang menemukan.

“Saya sama sekali tidak menyangka. Awalnya hanya ingin merapikan halaman agar anak-anak nyaman bermain, ternyata di bawah tanah tersimpan sejarah besar,” ujar sang guru dengan nada haru.

Penemuan ini membuat warga sekitar dan para siswa geger. Area lokasi temuan kini telah dipasangi garis pengaman untuk mendukung proses penelitian lanjutan oleh tim ahli arkeologi.

Para peneliti menduga kawasan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari jalur permukiman lama atau rute perdagangan masa lampau. Jika terbukti, temuan ini berpotensi membuka babak baru penelitian sejarah lokal sekaligus memperkaya khazanah warisan budaya Nusantara. (Red)

DEMAK, Narasionline.id – Kepedulian terhadap korban bencana banjir kembali ditunjukkan melalui aksi nyata. Komunitas Peduli Sosial (KOPSA) SMP Negeri 2 Karangtengah bersama Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kabupaten Demak menggelar penggalangan bantuan sekaligus mendirikan Dapur Peduli Sesama bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Karangtengah dan Kecamatan Guntur, Sabtu (04/04/2026).

Kegiatan kemanusiaan tersebut dipusatkan di halaman depan SMP Negeri 2 Karangtengah dan melibatkan seluruh unsur sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua siswa, hingga relawan RAPI Kabupaten Demak.

Bantuan yang berhasil dihimpun difokuskan pada kebutuhan pangan darurat, di antaranya ratusan kilogram beras, telur, susu formula untuk bayi dan balita, mi instan, biskuit, serta berbagai makanan siap saji lainnya.

Seluruh bantuan tersebut langsung didistribusikan pada hari yang sama kepada warga terdampak banjir di wilayah Kecamatan Karangtengah dan Kecamatan Guntur dengan dukungan relawan RAPI agar penyaluran berjalan cepat dan tepat sasaran.

Kepala SMP Negeri 2 Karangtengah sekaligus Ketua RAPI ZZW Wilayah 28 Kabupaten Demak, Masnan, S.Pd., S.Kom., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas solidaritas seluruh pihak yang terlibat dalam aksi kemanusiaan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih dan rasa bangga atas antusiasme seluruh keluarga besar SMP Negeri 2 Karangtengah, mulai dari guru, siswa, orang tua, OSIS, hingga relawan RAPI yang telah bahu-membahu mendirikan Dapur Peduli Bencana Banjir. Bantuan ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi darurat warga terdampak, khususnya di Desa Grogol dan Desa Trimulyo Kecamatan Guntur,” ujar Masnan.

Ia menegaskan bahwa kegiatan sosial ini bukan sekadar aksi seremonial, melainkan bentuk nyata pendidikan karakter kepedulian sosial kepada para siswa.

“Kami ingin menanamkan nilai empati sejak dini kepada peserta didik bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga tempat membangun kepedulian terhadap sesama,” tambahnya.

Dari pantauan di lapangan, tim relawan gabungan SMP Negeri 2 Karangtengah bersama RAPI Kabupaten Demak turut turun langsung ke wilayah terdampak banjir untuk membagikan makanan siap saji, minuman, serta paket sembako kepada warga.

Salah seorang warga terdampak banjir mengaku sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan, terutama karena akses terhadap kebutuhan pangan masih terbatas akibat genangan air yang belum surut.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan dari SMP Negeri 2 Karangtengah dan RAPI. Bantuan makanan ini sangat kami butuhkan di kondisi seperti sekarang,” ungkapnya.

Hingga saat ini, banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di Kecamatan Karangtengah dan Guntur sehingga menyulitkan aktivitas warga, terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari. Kehadiran dapur peduli yang digagas keluarga besar SMP Negeri 2 Karangtengah bersama RAPI Kabupaten Demak menjadi bukti nyata solidaritas sosial di tengah situasi darurat bencana. (Red)

Pasuruan, Narasionline.id – Dugaan adanya aliran dana yang disebut sebagai “uang bensin” kepada sejumlah oknum wartawan dan LSM dari SMKN 2 Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kembali mencuat ke permukaan.

Informasi yang beredar menyebutkan, dana tersebut diberikan secara rutin setiap bulan kepada sejumlah pihak yang mengatasnamakan media dan lembaga swadaya masyarakat.

Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon selulernya, Ulum, yang namanya disebut-sebut terkait dengan koordinasi pihak luar terhadap sekolah tersebut, membantah tudingan bahwa dirinya bertindak sebagai “beking” sekolah.

Ulum menjelaskan, bahwa dirinya hanya membantu mengoordinasikan sejumlah oknum wartawan dan LSM yang diduga menerima uang bensin setiap bulan.

“Saya bukan beking. Saya hanya mengoordinir teman-teman media dan LSM terkait uang bensin tersebut,” ujarnya. Sabtu (07/03/2026).

Ia mengaku, dirinya diminta membantu oleh pihak sekolah agar situasi tetap kondusif sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan fokus.

Menurut Ulum, adanya pemberian uang bensin tersebut justru membuat pihak sekolah merasa terbebani dari sisi anggaran.

“Sekolah juga sebenarnya kelabakan mencari anggaran untuk uang bensin itu, karena masih banyak kebutuhan sekolah yang harus dipenuhi,” ungkapnya.

Terkait sumber anggaran, Ulum menyebutkan bahwa dana tersebut berasal dari bentuk solidaritas para wali murid yang telah disepakati bersama.

Saat ditanya mengenai jumlah pihak yang menerima uang bensin tersebut, Ulum menyebut jumlahnya mencapai sekitar 70 orang yang terdiri dari oknum wartawan dan LSM dari berbagai daerah.

“Ada sekitar 70 orang yang menerima. Mereka berasal dari beberapa wilayah seperti Sidoarjo, Surabaya, Malang, dan daerah lainnya,” katanya.

Munculnya dugaan pemberian uang bensin kepada oknum media dan LSM ini menuai sorotan. Sejumlah pihak menilai praktik semacam itu tidak sejalan dengan semangat transparansi dan independensi, terlebih jika terjadi di lingkungan lembaga pendidikan yang seharusnya fokus pada proses belajar mengajar.

Hingga berita ini diturunkan, media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak SMKN 2 Sukorejo terkait informasi tersebut. (Bd)

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.